Rabu, 29 Agustus 2012

Siapa yang jawab????


Sudah menjadi rumusan baku bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah SWT pasti akan diuji dengan berbagai ujian. Ujian itu akan terus berlangsung hingga teruji dan terbukti mana “Emas” mana “tembaga”. Mana yang “benar-benar beriman” dan mana yang hanya “dusta” saja pernyataan “Imannya”. Ternyata memang banyak yang terhempas diterpa badai musibah, bahkan hingga menghempaskan Iman-nya, dan mulai menikmati penyimpangannya. Tak kuat memegang keimanan disaat-saat penuh krisis dan derita.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
[29:3] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.


Rupanya mereka yang terhempas dalam kubangan penyimpangan tersebut “Keimanannya” tidak sampai kedalam hati hanya gumpalan teori dari mulutnya saja. Terbukti ketika musibah datang, yang menjawab bukan “Iman” dalam hatinya tapi mulutnya yang pandai bersilat dan berkilah.

[49:14] Orang-orang arab badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (AL HUJURAAT (KAMAR-KAMAR) ayat 14)

Saudaraku!
Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 214, Allah SWT akan menguji keimanan seseorang dengan tiga ujian, yaitu:
1. Penderitaan -> (pisik)
2. Kemelaratan -> (ekonomi)
3. Goncangan -> (psikologis)

[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Secara kausalitas, ketiga derita tadi bisa datang sebagai kesalahan atau kecerobohan diri tetapi bisa juga sebagai rencana atau makar musuh Islam yang hendak memadamkan cahaya Allah SWT.

[8:30] Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Tetapi berbahagialah saudaraku!, sebab berbagai ujian itu akan menghantarkan kita ke surga-Nya. Itu semua jika kita sanggup menjawab ujian itu dengan keimanan.

Sungguh, jika derita yang datang sebagai wujud ujian dari Allah ini kita jawab dengan "Keimanan", maka hasilnya akan melahirkan mukmin bermental prima yang menyandang "KESABARAN". Sabar itu adalah kekuatan jiwa yang nampak dari tetapnya ia dalam jalan Fisabilillah bderjuang dan berkarya. Tidak menyerah karena kasus, masalah dan segala kenyataan pahit.
[3:146] Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Tetapi sebaliknya, jika dihadapi bukan dengan Iman, tapi dengan perasaan, maka akan menghempaskan dia di jalan Allah. Merasa beban yang tak kuat ia pikul. Mundur teratur dari barisan hamba Allah yang berjuang demi tegaknya Islam. Patah semangat dan putus asa. Naudzubillah.

Selasa, 28 Agustus 2012

TULI, BISU dan BUTA (Part II)


[2:19] atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

[2:20] Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.


Kaum munafiqun diibaratkan seperti orang yang berada dibawah kucuran hujan kebat. Ini menggambarkan orang yang penuh dengan limpahan PETUNJUK ALLAH berupa wahyu Al-Qur'an (dan Hadits Rasulullah).

Tetapi sikap mereka berhadap hadapan dengan Al-Qur'an. Mereka menghadapi Qur'an bukan untuk diterima secara totalitas sebagai PETUNJUK dari Allah. Dan bukan untuk dijalankan secara 'murni' dan 'konsekwen'. Mereka berhadapan dengan QUR'AN untuk memilah dan memilih mana ayat "yang menurut mereka" masih relevan atau sudah usang, mana ayat yang up to date mana yang sudah kuno, mana ayat yang rasional mana yang irrasional, mana ayat yang sesuai budaya (kultur) mana ayat yang bertabrakan dengan kultur.

Seharusnya Al-Qur'an yang merupakankan rahmat (karunia) Allah itu diterima seluruhnya dan dijalankan secara murni dan konsekwen.Tetapi, Karena penerimaan mereka tidak utuh terhadap AL-QUR'AN, maka mereka memandang bahwa didalam Al-QUR'AN itu ada yang "menguntungkan" ada juga yang "merugikan". Ayat 'yang menguntungkan' diibaratkan kilat yang bisa menerangi jalannya disaat gelap, dan yang merugikan / menakutkan diibaratkan suara gelegar guruh yang memekakan telinganya. Ketika mendengar guruh telinga mereka ditutup rapat oleh jemarinya karena takut mati , tetapi jika ada kilat yang menyinari jalan dikegelapan mereka berjalan dibawah sinarnya.

Kaum munafiqun adalah kaum SEKULER yang memisahkan Islam dengan kehidupan dan negara. Mereka hanya menjadikan syari'at islam itu sebagai aturan yang bersifat individual tidak mengatur kehidupan soaial.

Kaum munafiqun adalah kaum RITUALIS yang menerima aturan Allah dalam konteks ritual (ubudiyyah) sepoerti shalat, shaum, hajji, qurban, aqiqah dll. tetapi setengah-setengah dalam menerima aturan Allah dalam konteks sosial ekonomi (muamalah), atau setengah-setengah dalam meneraima aturan Allah dalam konteks sosial budaya (munakahat) bahkan menolak mentah-mentah aturan Allah dalam konteks sosial politik (jinayah wal khilafah).

Kaum munafiqun adalah kaum MODERAT yang mencoba mengambil jalan tengah (talbis) antara Islam dengan barat atau dengan komunis.

Kaum munafiqun adalah kaum yang KOOPERATIF yang mencoba bersikap lunak dan bekerja sama dengan thaguth agar sebagian ajaran islam bisa dilaksanakan tetapi dia aman dari makar jahat thaguth.

Kaum munafiqun adalah kaum OPORTUNIS yang mencomot sebagian ajaran Islam saja (tidak Kaffah). Dicomot yang dipandang menguntungkan atau tidak merugikan.

Tuli, Bisu dan Buta


Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) (QS Al-Baqarah : 17-18)


Ketika gelap, maka yang dibutuhkan adalah cahaya agar dapat menerangi jalannya sehingga tidak sesat jalan dan sampai tujuan.

Orang munafiq diibaratkan seperti orang yang sedang menjalani hidup dunia ini yang ‘gelap’. Agar perjalanan hidupnya tidak tersesat dan sampai tujuan, maka dibutuhkan “cahaya hidup” sebagai penerang jalan kehidupan. “Cahaya hidup” itu adalah Al-Qur’an.

Hanya saja sikap munafiq terhadap Al-Qur’an adalah salah. Mereka , menjadikan Al-Qur’an bukan sebagai “penerang jalan”, tetapi “penerang diri”. Diibaratkan orang yang menyalakan obor / lilin ditengah kegelapan, tetapi setelah obor / lilin itu nyala ternyata cahaya lilin itu hanya sanggup menerangi dirinya, sementara jalan hidupnya tetaplah gelap (dihilangkan cahayanya). Beda lagi jika yang dinyalakannya senter bateray, maka cahaya senter itu tidak menerangi tubuh tetapi menerangi jalannya.

Gambaran yang tepat akan sifat busuk kaum munafiqin. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai media menuju kesenangan diri (oportunis). Mereka tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai “Hudan” (petunjuk hidupnya) tetapi sebagai komoditas. Mereka tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai dumber hokum dalam idiologi, politik, ekonomi, social budaha dan HANKAM.

Al-Qur’an dijadikan alat untuk meraih harta, tahta bahkan wanita. Bahkan Al-Qur’an dijadikan dalil untuk menjustifikasi aturan / hukum yang mereka bikin sendiri. Hal ini pernah terjadi pada kaum Yahudi dan Nashrani. Mereka mencampakkan Kitab Allah dan membuat Kitab (aturan / hokum sendiri) tetapi kemudian mereka berkata :”ini dari Allah” (QS 2:75-79).

Mereka mengaku mengimani Kitab Allah (Al-Qur’an) tetapi berhukum dengan hokum Thaguth (QS 4:60). Mereka mengaku beriman kepada Al-Qur’an tetapi enggan berjuang menegakan hokum yang berdasarkan Al-qur’an / syari’at Islam (QS 5:68).


MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA.

Bego, Tolol dan Stupid! Apa bedanya????


JAHILIYYAH bukan suatu masa kegelapan dimasa lalu. Tetapi suatu masa kegelapan dimana saja selama sistem sosial manusia tidak didasarkan kepada CAHAYA ALLAH
“Jahiliyyah” , bukan hanya milik kaum pada masa Nabi Muhammad saja, tetapi Jahiliyyah ini adalah istilah bagi suatu kondisi yang jauh dari “cahaya” Allah, kapanpun dan dimanapun. Menurut Ibnu Taimiyah seperti yg dikutip oleh Muhammad Qutb jahl itu bermakna “Tidak memiliki atau tidak mengikuti ilmu.” Karena itu orang yg tidak memiliki pengetahuan tentang yg haq adl jahil apalagi kalau tidak mengikuti yg haq itu. Atau tahu yg haq tapi perilakunya bertentangan dgn yg haq meskipun dia sadar atau paham bahwa apa yg dilakukannya memang bertentangan dgn yg haq itu sendiri.

Ada 4 karakter kejahiliyyahan:

YANG PERTAMA:
DZHANNAL JAHILIYYAH (PRASANGKA JAHILIYYAH) 3:154

sekulerisme
Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhdadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata:" Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini? "Katakanlah:" Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah ". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata:" Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini ". Katakanlah:" Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh ". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
QS. Ali Imran (3) : 154

(penjelasan QS 3:154)
Kekalahan dalam perang Uhud menjadi sarana dan kesempatan emas bagi Munafiqin (infiltran dan oportunis) dalam tubuh ummat Islam untuk menebar propaganda sesatnya. Mereka menuduh (dzhan) yang jelek kepada Allah (Dzhan Suu); bahwa perang yang dipimpin Allah dan RasulNya (hasilnya) kalah… jangan-jangan ekonomi juga, jika berdasar kepada Allah dan Rasulnya tidak akan mencapai kemakmuran… begitu pula dalam politik, social, budaya, pendidikan, kesenian, hankam dan lain-lain.

Mereka berprasangka bahwa Allah tidak sanggup mengurus kehidupan manusia (POLEKSOSBUDMILKAM). Oleh karena itu mereka berkata kepada Rasul: “adakah sebagian urusan yang bisa kami urus sendiri” (Hal Lanaa minal Amri Min Syai’in?). Disinilah propaganda sekuler digencarkan kaum oportunis.

Mereka ingin berbagi dengan Allah. Allah mengurus sebagian urusan hidupnya (ritual) sementara mereka (manusia) juga diberikan hak mengatur sebagian kehidupannya (poleksosbudmilkam).

Propaganda mereka dijawab paten oleh Allah: “Katakanlah (Muhammad) kepada mereka: Seluruh Urusan itu semuanya hak allah mengaturnya” (Qul Innal Amra Kullahu Lillah).

Keinginan untuk memisahkan sebagian kehidupan manusia dari pimpinan Allah dan Rasulnya (sekulerisme) inilah yang oleh Allah kemudian disebut dengan istilah: “Dzhannal Jahiliyyah” (prasangka Jahiliyyah).
-----
Negri manapun dan kapanpun yang menerapkan idiologi sekulerisme ini adalah negeri yang “jahiliyyah”

YANG KEDUA:
HUKUM JAHILIYYAH [5:50]


Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
QS. al-Mai'dah (5) : 50

Sudah bisa dipastikan jika idiologi suatu negeri, adalah idiologi hasil perasan pikiran manusia seperti sekulerisme, maka akan menerapkan hukum (tata aturan) produk pikiran manusia dan menyingkirkan hukum yang bersumber dari wahyu [10:35-36].

Padahal Allah SWT menyatakan bahwa “barangsiapa yang menetapkan hokum tidak berdasar kepada hokum Allah, maka dia itu Kafir, dzalim dan fasiq” [5:44-45-47]. Kenapa?. Karena menetapkan hokum itu hanyalah hak Allah SWT [6:57, 12:40].

Itulah hokum Jahiliyyah.
----
Negri manapun dan kapanpun yang menerapkan hukum yang tidak bersumber dari wahyu, adalah negeri yang “jahiliyyah”

YANG KTIGA:
TABARUJ JAHILIYYAH [5:50]


budaya jahily
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ...,
(QS. aL-aHZAB 33:33)

Tabaruj Jahiliyyah adalah kejahiliyyahan dalam aspek budaya (Budaya Jahiliyyah). Seperti para Istri Rasul (dalam QS 33;33) diatas dilarang mengikuti tradisi Jahiliyyah dalam bersolek. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a., dari Nabi saw.bersabda, "Kalian akan mengikuti adat tradisi ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang biawak, [1] niscaya kalian akan mengikutinya juga." Para Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Rasulullah menjawab, "Kalau bukan mereka, siapa lagi?"(Bukhari [3456] dan Muslim [2669])

Tradisi Jahiliyyah adalah tradisi bangsa yang berporos pada "ABAANAA" , menerima apa yang sudah ditetapkan oleh "The Founding Father", walaupun apa yang sudah mereka tetapjkan itu tidak berdasar Ilmu dan petunjuk Allah SWT. Firman Allah :"Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?"(QS. 5:104)

itulah budaya jahiliyyah
--------------------------
suatu negri yang tetap mempertahankan ide dasar negrinya berdasar apa yang telah ditetapkan oleh para "the Founding Father", walaupun ide dasar tersebut tidak berdasar ilmu Allah adalah negri yang kjahiliyyah.

YANG KEEMPAT :
HAMIYYAH JAHILIYYAH [5:50]

semanagat nasionalisme
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mumin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 48:26)

Ayat ini turun berkenaan dengan perjanjian hudaibiyyah. Pada sa’at perjanjian Hudaibiyah, kaum Musyrikien tidak mau menerima tulisan Bismillah dan Muhammad Rasulullah dalam teks perjanjian itu. Mereka bersikeras bahwa bila mereka menerima tulisan itu tentu saja mereka tidak akan memerangi Rasul dan pengikutnya sebab tulisan tersebut merupa-kan pengakuan risalah Muhammad. Mereka bersikeras membela simbol simbol jahiliyyah demi keangkuhannya. Semangat Membela Lambang, simbol dan nilai nilai jahiliyyah inilah disebut HAMMIYYAH JAHILIYYAH atau Semanagt Nasionalisme.

My Heart..


Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].

Hati ibarat raja, Raja dalam sistem diri manusia. Baik dan buruknya manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas hatinya. Jika hatinya baik akan baik pula seluruh system dirinya, namun jika buruk, buruk pula system dirinya.

Berdasarkan petunjuk QS Al-Baqarah ayat 1-20, hati manusia itu terbagi kepada 3 macam kualitas hati. Pertama: Hati yang bersih (Qalbun salim), Kedua: Hati yang Mati (Qalbun Mayyitun), Ketiga: hati yang berpenyakit (Qalbun Mariedun).
~ Qalbun Salim ~

Qalbun Salim adalah kualitas hati yang hidup dan sehat (tidak berpenyakit hati). Qalbun salim ini milik orang yang beriman dan bertaqwa.

Pemilik Qalbun Salim pasti memiliki jiwa yang sensitif , mudah tergugah jika disebut’ nama Allah, firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (QS. 8:2).

Karena jiwanya yang sensitif jika disebut nama Allah inilah, yang menyebabkan dirinya ridha diatur dengan aturan / undang undang Allah SWT, yaitu Al-Qur’an. Firman Allah SWT: Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (QS. 2:2).

Karena jiwanya dipenuhi Cahaya terang Ilahi, maka jiwanya selalu penuh dengan cinta dan ma’rifat kepada Allah, Taqwa dan tawakkal dalam menempuh karya terbaiknya, optimis dalam menjalani hidup. Selalu syukur ketika mendapat nikmat, dan sabar dalam menerima musibah. Pandai mengatur waktu , husnudzhan kepada Allah dan lain-lainya.


~ Qalbun Mayyitun ~

Qalbun mayyitun adalah kualitas hati yang mati, kaku keras seperti batu. Sejatinya Qalbun Mayyitun ini dimiliki oleh orang kafir, tetapi bisa saja hinggap kepada kaum mukminin.

Pemilik QALBUN MAYYIT ini telah dikunci mati hatinya oleh Allah. Sehingga sudah tidak sanggup lagi menerima peringatan-peringatan wahyu, firman Allah SWT: "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. 2:6) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS. 2:7)

Qalbun mayyit ini telah membuat pemiliknya menjadi bebal, DINASEHATI dengan Qur’an atau tidak tetap tidak berubah. Jiwanya sudah tidak takut lagi dengan peringatan Al-Qur’an dan tidak tertarik lagi dengan kabar gembira surga.

Seringkali seruan Allah kepada mereka tidak membuat tergetar jiwanya, mereka kerap cuek dengan segala peringatan dan seruan Allah SWT. Firman Allah SWT: ” Dan diantara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu‘.”[QS. Al-An'am:25].

“(Mereka berkata:) Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula.”[QS. Fushilat:5].

Hati yang mati menolak dihukumi dengan hukum wahyu.


~Qalbun Mariedl~

Qalbun Maridl adalah kualitas hati yang penuh penyakit. Sejatinya Qalbun Mayyitun ini dimiliki oleh orang Munafiq, tetapi bisa saja hinggap kepada kaum mukminin.

Sifat sifat pemilik Qalbun Maridl ini diumpamakan Allah seperti dalam QS Al-Baqarah. "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. (QS. 2:17)"

Dikegelapan butuh cahaya. Dinyalakanlah lilin atau obor tujuannya? Tentu agar mendapat cahaya yang akan menerangi jalannya. Tetapi setelah lilin / obor itu nyala, maka yang terang adalah seputar dirinya, sementara jalan yang akan ditempuhnya tetap gelap (dihilangkan cahaya setelah apinya menyala).


Itulah perumpamaan orang munafiq yang memiliki hati yang berpenyakit. Mereka yang sering membaca dan mengkaji wahyu Allah tetapi karena ada penyakit, menyebabkan wahyu yang dipahaminya itu menjadi alat ketenaran, keunggulan, kekayaan dirinya (dirinya bercahaya), tetapi tidak menjadi petunjuk hidupnya (hilang cahanya). "Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)", (QS. 2:18)

Atau diumpamakan seperti dalam QS Al-BAqarah."Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (QS. 2:19). Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." (QS. 2:20)

Dalam hujan yang lebat dan gelap ada guruh dan petir. Guruh menjadi sesuatu yang menakutkan tetapi petir dianggap menguntungkan, karena member penerangan untuk jalan gelapnya.


Itulah perumpamaan orang munafiq yang memiliki hati yang berpenyakit. Mereka menghadapi Al-Qur’an dalam keadaan berhadap-hadapan dengan Al-qur’an, jika menguntungkan diterima jika merugikan ditolaknya. Mereka mengimani sebgaian hukum Allah dan mengkufuri sebagian hukum Allah lainya didalam al-Qur’an. Firman Allah SWT:"Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." (QS. 2:85)

Pemilik hati mariedl adalah tipe orang yang pragmatis oportunis. Mereka mau menerima Qur'an selama menguntungkan tujuan bisnis atau keserakahan politiknya, tidak menjalankan Qur'an secara murni dan konsekwen.

CINTA ITU... Pengabdian


Mengabdi (Ibadah) kepada Allah Ta’ala adalah “fitrah manusia” Oleh karena itu mengabdi (ibadah) sudah menjadi tugas hidup manusia. Tidak ada perintah dari Allah SWT kepada manusia kecuali agar manusia mengabdi kepada Allah Ta’ala. Firman Allah Ta’ala: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah (mengabdi kepada ) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya 
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
 (QS. 98:5)

~ pengertian ibadah ~

Al-Ma’luf dalam kamus Al-Munjid mengatakan bahwa ibadah dari segi bahasa mengandung lima arti: (1) Wahhadahu / MengEsa-kan Allah, (2) Khaddamahu / melayani kehendaknya, (3) Khodla’a Lahu / tunduk patuh berserah diri padanya, (4) Dzalla Alaihi / berendah diri dihadapannya, (5) Tho’a lahu / taat pada perintahnya [Almunjid Fillughah, hlm. 326]

Senada dengan Ma’luf, Raghib Al-Isfahany dalam Mufrodat Alfadz Al-Qur’an mengatakan bahwa: “Ubudiyyah adalah menampakan kerendahdirian. Sementara IBADAH berpangkal dari rasa rendah diri. Karena sesungguhnya Ibadah itu adalkah puncak kerendah dirian, dan hal itu tidak bisa dihaturkan kecuali hanya kepada Pemilik puncak keutamaan yaitu Allah Ta’ala” [Mufrodat, hlm. 42].

Pengertian Ibadah menurut bahasa tersebut kemudian dirangkum oleh Ibnu Katsir yang menyimpulkan bahwa Ibadah kepada Allah itu adalah menghimpun tiga kesempurnaan sikap yaitu: (1) Kamaalul Mahabbah / kesempurnaan rasa cinta kepada allah, (2) Kamaalut Tadzalul / kesempurnaan rasa rendah diri dihadapan Allah, dan (3) Kamaalul Khudlu’ / kesempurnaan ketunduk patuhan kepada perintah dan hukum Allah (Tafsir Al-Qur’anul Adzhiem, jilid 1, hlm. 24).

~ rendah diri dan cinta ~

Nampak secara bahasa, bahwa ibadah itu didasari oleh dua rasa yang utama, yaitu rasa cinta kepada Allah dan rasa rendah diri dihadapan Allah Ta’ala.

Tanpa dua rasa yang utama itu tidaklah mungkin seorang manusia sanggup menjadi hamba Allah. Sebab menjadi hamba Allah berarti menjadi “budak” yang mendapat titah perintah Allah. Bagaimana mungkin manusia mau di ‘titah’ oleh perintah Allah dalam kondisi sebagai ‘budak / hamba’ jika masih ada rasa ‘tinggi diri’ dihadapan Allah.

Rasa ‘tinggi diri’ inilah yang pernah membuat Iblis laknatullah gagal menjadi hamba Allah SWT karena membangkang terhadap perintah / hukum Allah. Ketika Allah memerintahkan untuk sujud kepada Adam AS sebagai penghormatan terhadap kekhilafahan Allah dimuka bumi, Iblis enggan sujud karena ‘tinggi diri’ / sombong. Dengan itu, cukup bagi Allah memvonis Iblis sebagai PEMBANGKANG / Kafir (23:34). Iblis membangkang kepada titah perintah Allah karena merasa ‘tinggi diri’. Ia merasa bahwa pilihan Allah kepada Adam AS itu salah. Ada yang lebih baik ,dan lebih pantas jadi khalifah, daripada Adam AS yaitu dirinya (7:12).

Rasa ‘tinggi diri’ ini juga telah menghinggapi manusia modern’ saat ini dimana hukum-hukum Allah ditolaknya karena tinggi diri’. Manusia tinggi diri’ saat ini malah menganggap ada hukum produk manusia yang lebih baik daripada hukum Allah, sehingga ditolaknya hukum Allah tersebut. Sebagaimana terhadap Iblis, Allah SWT juga memvonis manusia yang menolak hukum Allah dengan vonis keras sebgai PEMBANGKANG / Kafir (5:44,45,47).
Rasa cinta juga adalah dasar dan motivasi orang mengabdi. Ada pepatah: “Man Ahabba Syai’an Abadahu” (barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan mengabdikan diri pada sesuatu yang dicintyainya itu).
Bayangkan jika manusia mentaati Allah Ta’ala tanpa didasari dengan rasa cinta kepada Allah. Pasti menjadi ketaatan yang gersang dan serba terpaksa. Asy-Syahid Imaam Awwal mengingatkan dengan indah: “taat patuh tanpa rasa cinta setia akan merasakan kaku-tegang dan kurus-kering-tandus, laksana suara tanpa irama. Bahkan kadang-kadang terasakan sebagai sesuatu yang keras dan kejam, kasar dan bengis”.
~Taat, tunduk dan patuh~

Kalau rasa rendah diri dan cinta kepada Allah adalah dasar motivasi manusia melakukan pengabdian kepada Allah, maka taat adalah ibadah dalam tataran praktis. Jadi praktek ibadah adalah taat. Taat kepada Allah ta’ala, berarti mentaati perintah / hukum-Nya.

Firman Allah SWT: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 9:31)

Ayat diatas menegaskan bahwa orang Yahudi dan nashrani menyembah ulama’ dan pemimpin mereka (akhbar dan ruhban). Ada dua pertanyaan mendasar dari ayat ini. [1] kenapa ulama dan pemimpin mereka menjadi Arbab (tuhan tandingan Allah)?, [2] apa yang dimaksud menyembah ulama dan pemimpin itu?

Kedua pertanyaan tersebut dapat digambarkan dalam riwayat berikut ini; “Saya mendatangi Rasulullah dengan mengenakan kalung salib dari perak di leherku. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Adi, lemparkanlah patung itu dari lehermu.” Kemudian saya melemparkannya. Usai saya lakukan, Beliau membaca ayat ini: Ittakhadzû ahbârahum wa ruhbânahum min dûni Allâh, hingga selesai. Saya berkata, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Beliau bertanya, “Bukankah para pendeta dan rahib itu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengharamkannya; menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya.” Aku menjawab, “Memang begitulah.” Beliau bersabda, “Itulah ibadah (penyembahan) mereka kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka.” (HR ath-Thabrani dari Adi Bin Hatim)”.

Para ulama yahudi dan nashrani berani menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah. Berarti mereka telah berani membuat hukum sendiri diluar hukum Allah Ta’ala. Padahal hak membuat hukum adalah hak Allah semata sebagai RABB. Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia (QS Yusuf [12]: 40)

Al-Quran juga menyebut syurakâ’, sekutu-sekutu atau sesembahan selain-Nya yang membuat aturan bagi kehidupan. Allah Swt. berfirman: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS al-Syura [42]: 21).

Itulah sebabnya kenapa dalam QS 9:31 ulama dan pemimpin mereka disebut ARBAB (Rabb / Tuhan tandingan Allah). Sebabnya, karena mereka mensabot hak mutlak Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang berhak membuat hukum.

Ummatnya disebut menyembah ulama’ dan pemimpin karena taat dan mengikuti hukum / aturan yang diproduk mereka.


Menjadi HAMBA ALLAH TA’ALA berarti taat tunduk dan patuh kepada perintah / hukum Allah, tidak kepada hukum yang lainya. Dan ketaatannya tersebut didasari motivasi rasa rendah diri dihadapan Allah dan cinta kepada Allah Ta’ala.

Share

FITRAH..

~ Pengertian fitrah ~


Fitrah adalah bahasa arab, yang arti asalnya adalah “menciptakan”, seperti dalam QS 35:1, disana Allah sebagai “FAATIRU samawati wal ardhi” (Pencipta langit dan bumi).

Dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Mandzhur menulis salah satu makna ‘fitrah’ dengan arti (Al-Ibtida wal ikhtiro / memulai dan mencipta).

Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa FITRAH adalah penciptaan awal atau asal kejadian. FITRAH adalah kondisi "default factory setting", suatu kondisi awal sesuai desain pabrik.

Sebagai ilustrasi misalnya suatu barang, sebut saja “gelas”. Gelas pada awalnya diciptakan (dibuat) dengan tujuan sebagai alat minum, maka fitrah-nya gelas adalah sebagai alat minum. Si pembuat gelas (pabrik) pasti telah memilih bahan, proses dan desain produknya sesuai dengan tujuan ia membuatnya. Oleh karena itu maka gelas itu sangat cocok dan pas dipakai sebagai alat minum karena sesuai dengan fitrahnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah gelas itu bisa dipakai sebagai alat mandi?. Jawabnya tentu bisa. Tetapi yang perlu diperhatikan, pasti tidak nyaman memakainya dan si gelas itu akan cepat rusak.


~ Fitrah manusia ~

Allah telah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi Hamba Allah yang pandai mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56). 

Allah Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Mushowwir (Pendesain) , pasti telah mendesain penciptaan manusia baik dari bahan dan prosesnya, sedemikian rupa agar hasil akhirnya lahir suatu makhluk manusia yang bisa mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT.

Jadi fitrahnya manusia adalah mengabdi ataui beribadah kepada Allah SWT.

Karena fitrahnya manusia adalah mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT, maka manusia dengan struktur jasmani dan rohaninya pasti bisa dipakai untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah. Rohani dan jasmani manusia pasti cocok dan pas dipakai untuk beribadah. Sebaliknya jika dipakai maksiat (membangkang) kepada Allah pasti tidak nyaman, dan dipastikan pasti bakal cepat rusak dan celaka. Sungguh kecelakaan manusia adalah karena penyimpangan dari “FITRAHNYA”.

Seandainya manusia telah lama dan jauh menyimpang dari fitrahnya maka kadang manusia telah merasa nyaman dengan kemaksiatan. Tetapi yang perlu dicatat itu hanyalah sementara karena pada ujungnya pasti bakal rusak / celaka karena penyimpangan dari fitrahnya. Firman allah: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. 6:44)