Sabtu, 19 Juli 2014

I'm Sorry.... Thank You..

Hari ini aku merasa sedikit aneh dengan perasaanku setelah apa yang terjadi tadi malam. Semalam aku ngobrol sama teman kosan aku. Mungkin sudah bukan teman lagi tapi aku sudah menganggap dia saudara dekat. Ya, keluargaku. Tuhan, ternyata benar dan sangat benar bahwa menerima kritik dan rasa tidak suka seseorang kepada kita rasanya sangat tidak enak dan pahit sekali. 

Tadi malam, aku ngobrol berdua dengan dia. Awalnya aku ingin mencurhatkan perasaan dan kegundahanku akhir2 ini. Dua hari kemaren, aku nggak pulang ke rumah. Aku menginap di kosan adik. Jujur, alasan aku pergi dari rumah karena akhir2 ini aku merasa nggak betah dengan suasana rumah. Entah karena orang2nya atau karena hal lain aku nggak tau jelas. Akhir2 ini aku merasa kesal sekali sama teman sekamarku. Cara dia ngobrol dan semua gerak geriknya benar2 membuat aku kesal setengah mati. Saat itu aku berpikir bahwa kesalahan pasti ada di aku dan aku nggak bisa merasa begini terus, mungkin temanku itu tidak merasakan apa2, biasa aja. Hanya aku saja yang merasakan aneh. "Oversensitive" mungkin itu istilah yang cocok untuk perasaanku waktu itu. Dan aku mencoba mundur dari lingkunganku dan pergi ke lingkungan yang lain. 

Selama dua hari itu aku berpikir tentang apa yang sedang aku lakukan. Aku menyadari apa yang aku rasakan mungkin suatu hal yang bodoh. Kadang, aku memang butuh waktu untuk merenung dan menetralisir pikiran dan perasaanku. Apakah aku salah karena telah merasa seperti itu?

Dan tadi malam, aku memberanikan diri untuk menceritakan perasaanku secara umum. Dan kau tau, apa tanggapannya? Dia mengatakan tak seharusnya aku merasakan seperti itu, itu adalah perasaan yang salah. Malam itu, dia meluapkan perasaannya. Dia membalikkan semua apa yang aku katakan tentang perasaanku. Dan apa yang dia katakan benar2 telah menghancurkan hati dan perasaanku. Rasanya seperti cambuk dan sayatan pisau berkarat, dia menangis saat meluapkan semua kekesalan dan ketidaksukaannya padaku. Aku pun tak kuasa menahan air mata (bahkan sekarang pun aku menangis sambil nulis). Aku nggak benci, aku hanya merasa tak enak. Apa yang dia katakan semuanya benar. Aku mengakuinya.  

Dia mempertanyakan sensitivitasku tentang rumah. I am lazy, i know that. I don't really care about the house, about messy house. Dia mengeluhkan itu semua. Dimana sensitivitasku soal rumah? Katanya sensitif, tapi kok liat rumah berantakan aku cuek aja? dimana kepekaannya? 

She hates me when i watch movies. You know, I am movie's lovers. Dia benci ngeliat aku melakukan hal yang nggak berguna di mata dia. She said, We are moslem. Seharusnya aku tau apa yang seharusnya dilakukan seorang muslim! kita itu banyak tugas, seharusnya sudah tak ada waktu lagi untuk melakukan something useless. Kita ini seharusnya sudah tidak mengedapankan perasaan. Apa yang anak2 lakukan pada kita, seharusnya bukan masalah lagi... Dia mengatakan itu dengan menggebu - gebu dan berlinangan air mata.

I didn't blame her, She is so true bout the theory...  I just could see her with the tears in my cheeks.
Apa yang dia katakan tidak sepenuhnya benar, tidak semua hal yang dia tuduhkan, aku lakukan. Aku ingin sekali membela diri waktu itu, tapi hatiku melarang, karena tak ada gunanya melakukan itu. Apa yang dia katakan itulah yang dia lihat dan dia rasakan tentang aku. Waktu itu, aku hanya berpikir tak ada gunanya aku membela diri, hanya ada niat untuk merubah hal yang seharusnya berubah. Aku menyimpan rapat semua alasan dan pembelaan. Aku biarkan dia mengatakan apa yang dia ingin katakan. 

Tuhan, sungguh aku merasa sangat shock! Ternyata seperti itu pandangan orang terdekat aku tentang aku. Aku bukan orang yang pantas jadi tauladan, memang begitu.

Aku menyadari dengan sesadar sadarnya, diriku bukanlah aku, hatiku bukanlah miliku, aku tak bisa bebas merasakan sesuatu. Jika aku merasakan sesuatu yang buruk, aku harus menampar hatiku agar sadar. Ternyata memang tidak semudah itu aku mengungkapkan perasaanku tanpa merasa bersalah dan kesal. 

Satu pelajaran buatku, aku akan berusaha merubah semua yang harus berubah dan aku tidak akan mengatakan isi hatiku pada siapapun lagi, jika ternyata seperti ini akhirnya, biarlah aku sendiri yang mencambuk dan menetralisir hatiku.

Kepadamu saudaraku, aku minta maaf atas semua kekuranganku dan terima kasih atas semua peringatan itu. Aku berjanji akan menjadikannya cambuk untuk hati dan jiwaku. Aku bukan muslim yang sempurna, aku tahu itu. Aku tak pernah bisa selalu menikmati hal yang membosankan dan serius, seperti dirimu. Aku masih membutuhkan sesuatu yang tidak serius dan menghibur. Tapi, aku berjanji aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi muslim yang sempurna. 

Once more, I'm sorry and thank you... 

Tidak ada komentar: